Tampilkan postingan dengan label Kisah. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Kisah. Tampilkan semua postingan

PENDAMPING HIDUP YANG BAIK

_______________

Carilah pendamping hidup yang bisa menjadi teman curhat dan bisa memberi jalan keluar dari masalah yang kita hadapi. 

Rasulullah Saw meminta saran kepada istri beliau Ummu Salamah ketika perintah beliau tidak dilaksanakan oleh para sahabat yaitu setelah perjanjian Hudaibiyah ketika Rasulullah Saw memerintahkan untuk mencukur rambut, bertahallul dan menyembelih hewan kurban. Kemudian ummu Salamah berkata;" wahai Rasulullah, janganlah engkau mencela para mereka, sebab mereka sedang merasakan sesuatu yang besar di luar perkiraan mereka terkait perjanjian Hudaibiyah itu dan kenyataan mereka akan kembali ke Madinah tanpa berhasil memasuki Mekkah."

Ummu Salamah juga memberi saran kepada Rasulullah Saw untuk keluar kemah dan tidak berbicara dengan siapapun, lalu menyembelih kurban dan mencukur rambutnya. sehingga para sahabat yang melihat langsung mengikuti Rasulullah Saw walaupun ada diantara mereka yang hampir saja melukai diri sendiri karena merasa janggal dengan isi perjanjian Hudaibiyah. Bukannya para sahabat melanggar perintah Nabi Saw tetapi hati mereka sedang merasa janggal dengan keputusan dari perjanjian Hudaibiyah, karena secara zhahir merugikan kaum muslimin dan menguntungkan kaum musyrikin Mekkah.


*Dari kisah ini dapat kita ambil kesimpulan bagi perempuan untuk terus belajar menjadi pribadi yang baik dan punya pendidikan karena mereka adalah sekolah pertama bagi anaknya dan tempat curhat suami ketika ada masalah ataupun tidak.*

Masih Perlukah Belajar Sirah Rasulullah Saw. ????


Sudah barang tentu bahwa kebahagiaan kita didunia dan mulia kita disisi Allah Swt. di akhirat kelak tidak akan terwujud seandainya kita tidak menjadikan Rasulullah Saw. sebagai panutan, Allah berfirman:

لقد كان لكم فى رسول الله اسوة حسنة لمن كان يرجو الله واليوم الاخر وذكر الله كثيرا

Artinya: “Sesungguhnya telah ada pada (diri) Rasulullah itu suri teladan yang baik bagi kalian (yaitu) bagi orang yang mengharap (rahmat) Allah dan (kedatangan) hari kiamat dan dia banyak menyebut Allah” (Al-Ahzab:21).

Yang menjadi pertanyaan kita sekarang adalah, apakah uswah (suri tauladan) akan terwujud tanpa didasari ma’rifah (mengenal dengan sebenar-benarnya) Rasulullah saw.

Tentu saja tidak, karena kita akan menjadikan Baginda sebagai panutan setelah mengetahui siapa beliau sebenarnya, mengetahui beliau sebagai hambanya yang sempurna, dan memiliki dalil yang jelas di setiap hal yang berhubungan dengan Rasul.

Karena pada ibadah, tata krama, aktivitas, kediaman, perkataan, perbuatan, etika, berjalan, duduk, berdiri, tidur, bicara, diam, semua kondisi, dan diri beliau adalah suri teladan dan panutan. Oleh sebab itu, mari kita pelajari sirah rasullullah Saw. karna itu menjadi kebutuhan bagi kita untuk menjalani aktivitas kita sehari-hari

Bagi Anda yang mengklaim diri cinta kepada Rasulullah saw. sudahkah Anda mempelajari sirahnya dan menjadikannya sebagai panutan, apakah makna mahabbah Rasul yang kalian bicarakan, apakah itu hanya sebatas hiasan lisan dalam berkalam.

Mari sahabatku sekalian!!! 



Kita sama-sama belajar sirah beliau saw. dan berusaha semaksimal mungkin untuk meninggalkan panutan yang tidak layak di ikuti, serta berusaha menjadikan Rasulullah saw. sebagai panutan yang haqiqi.

Perhatian Nabi Ibrahim A.S Dalam Memilih Menantu

Setelah lama ditinggal sang ayah di kota makkah bersama ibunya, dan setelah mengalami peristiwa penyembelihan yang diperintahkan Allah,  Nabi Isma'il pun tumbuh besar hingga beranjak remaja, Ketika itu Isma'il belajar bahasa Arab dari kabilah Jurhum. Karena merasa tertarik kepadanya, maka mereka mengawinkan salah seorang wanita dari golongan mereka. Saat itu ibunda Nabi Isma'il sudah meninggal dunia.

Suatu saat Nabi Ibrahim tertarik untuk menjenguk keluarga yang ditinggalkannya, Maka beliau datang setelah pernikahan itu. Tatkala tiba di rumah Isma'il, beliau tidak mendapatkan Isma'il. Maka beliau bertanya kepada istrinya, bagaimana keadaan mereka berdua. Istri Isma'il mengeluhkan kehidupan mereka yang melarat. Maka Nabi Ibrahim menitip pesan, agar Ismail mengubah palang pintu rumahnya . Setelah diberitahu, Ismail mengerti maksud pesan ayahnya. Maka Ismail menceraikan istrinya dan kawin lagi dengan wanita lain yaitu putri Mudhadh bin Amru, pemimpin dan pemuka kabilah Jurhum.

Setelah perkawinan Isma'il yang kedua ini, Nabi Ibrahim datang lagi, namun tidak bisa bertemu dengan Isma'il. Beliau bertanya kepada istri Isma'il tentang keadaan mereka berdua. Jawaban istri Isma'il adalah pujian kepada Allah. Lalu Nabi Ibrahim kembali lagi ke Palestina setelah menitipkan pesan lewat istri Isma'il. Agar Isma'il memperkokoh palang pintu rumahnya.

Setelah diberitahu Isma'il pun mengerti maksud pesan ayah nya sehingga beliau mempertahankan perkawinan tersebut hingga dikaruniai anak oleh Allah sebanyak dua belas, semuanya laki-laki, yaitu:

1.  Nabat atau Nabyuth,

2.  Qaidar,

3.  Adba'il,

4.  Mibsyam,

5.  Misyma',

6. Duma,

7.  Misya,

8.  Hadad,

9. Taima,

10. Yathur,

11. Nafis,

12. Dan Qaiduman.


Dari cerita diatas dapat kita petik pekajaran bahwa betapa besar perhatian Nabi Ibrahim A.S terhadap menantu yang akan menjadi seorang ibu untuk cucu-cucu nya, karena keturunan yang baik tentunya berasal dari orang yang baik pula, dan perlu kita perhatikan bahwa Nabi Ibrahim A.S menilai baik tidak nya seorang menantu tergantung sebesar mana keimanannya kepada Allah, beliau tidak menilai kecantikan fisik, atau pun materi yang dimilikinya.

Bagaimana Para Sahabat Mati-Matian Membela Nabi ﷺ Pada Saat Perang Uhud?

 

Di antara mereka yang mati-matian membela Nabi adalah:

1. Abu Thalhah Al-Anshari radhiallahu’anhu, Ketika perang Uhud, kaum muslimin lari meninggalkan Rosululloh sedangkan Abu Tholhah berada di hadapan Nabi ﷺ., melindunginya dengan perisai.”

Anas mengatakan: “Abu Tholhah adalah seorang pemanah yang handal, ia sangat cepat dalam mencabut anak panah. Pada hari itu ia mematahkan dua atau tiga buah busur (saking banyaknya dia memanah-pent.)

Anas mengatakan: “Ada seseorang yang lewat dengan membawa kantong anak panah, ia mengatakan; ‘Berikan kepada Abu Tholhah!’.
Anas mengatakan: “Ketika Nabi melongokkan kepalanya mau melihat kepada pasukan, Abu Tholhah mengatakan: ‘Wahai Nabi Allah, demi bapak dan ibuku, janganlah engkau melongok agar engkau tidak terkena panah musuh,biarkan saya yang terkena asal engkau selamat.’.”
Abu Thalhah memanah di depan Nabi sambil berkata: “Wajahku sebagai pelindung wajahmu dan jiwaku sebagai penebus jiwamu”.

Ref: Al-Lu’lu’ Al-Maknun

Akan Terjadi Gerhana Bulan Total di Aceh Pada hari Selasa 8 November 2022, Kemungkinan Akan Berlangsung Selama 25 Menit



Dan kami juga membaca, Kepala Kantor Wilayah Kementerian Agama Provinsi Aceh, Dr H Iqbal SAg MAg menyampaikan bahwa, gerhana bulan jangan dikaitkan dengan kematian, musibah atau hal hal buruk lainnya karena gerhana bulan merupakan fenomena alam untuk menegaskan keagungan dan kebesaran Allah. Iqbal menghimbau agar Imam Masjid dan Mushalla/Meunasah di seluruh Aceh dapat melaksanakan shalat sunnah gerhana (khusuf al-qamar) yang dilanjutkan dengan sedikit khutbah gerhana pada saat gerhana terjadi sebagaimana data di atas, dianjurkan setelah shalat maghrib berjamaah tepat ketika sedang terjadi gerhana bulan total. tatacara shalat gerhana bulan (khusuf al-qamar) dilaksanakan dua rakaat dengan dua kali ruku’ pada setiap rakaatnya, Adapun di diantara ruku’ pada setiap rakaat dibacakan beberapa ayat Al-quran. Tata cara ini juga berlaku pada rakaat kedua sehingga dalam dua rakaat shalat gerhana terdapat empat kali ruku’ dan empat kali membaca ayat-ayat Alquran.
Dan insya allah, Kanwil Kementerian Agama Provinsi Aceh melalui Observatorium Pengamatan, Tgk. Chiek Kuta Karang akan memusatkan pengamatan Lantai III Kantor Wilayah Kemenag Provinsi Aceh dengan menggunakan 6 unit teleskop astronomi.
Warga Aceh juga dapat melihat proses terjadinya gerhana dengan cara melihat langsung ke arah timur ketika bulan mulai terbit pada pukul 18.17 Wib hingga berakhir gerhana sebagian pukul 19.49 Wib, juga dapat melihat live peristiwa gerhana bulan pada channel youtube “Kemenag Aceh” atau Facebook “Kemenag Aceh.”
Berdasarkan pengetahuan kami dari Ketua Tim Falakiyah Kanwil Kemenag Provinsi Aceh, Kamis (03/November/22), mereka memberitahu bahwa gerhana bulan kemungkinan terjadi mulai pukul 15.08 WIB dimulai dengan gerhana bulan penumbra. Kemudian akan terjadi lagi gerhana bulan sebahagian pada pukul 16.08 WIB. Sedangkan awal gerhana bulan total kemungkinan terjadi pada pukul 17.16 WIB, puncaknya pada pukul 17.16 WIB, juga puncak gerhana tersebut akan berakhir pada pukul 18.42 WIB. Setelah total, kemungkinan berlanjut dengan gerhana bulan sebahagian hingga pukul 19.49 WIB dan akhir penumbra terjadi pada pukul 20.57 WIB.
Adapun terjadi gerhana secara keseluruhan, gerhana akan terjadi selama 5 jam 57 menit, tetapi wilayah Aceh hanya dapat merasakan gerhana ini selama 1 jam 32 menit, mulai pukul 18.17 ketika bulan mulai terbit dari arah timur
.
Sedangkan terjadi gerhana bulan total, kemungkinan hanya dapat dirasakan oleh warga aceh sekitar 25 menit saja.
Ketika gerhana bulan total terjadi, bulan akan sedikit berwarna merah disekitar pukul 18.17 WIB sampai pukul 18.42 WIB, dan kemudian pada pukul 18.42 bulan akan berbentuk sabit kecil dan kemudian cahaya akan sedikit demi sedikit memenuhi piringan bulan hingga akan penuh kembali seperti bulan purnama yang sempurna pada pukul 19.49 WIB.

Imam Haddad dan Pentingnya Menulis

 

" Imam Haddad dan Pentingnya Menulis "

Seiring berkembangnya zaman banyak kelompok manusia yang tampak berkembang namun kapasitas dan pemikiran mereka semakin berkurang.

Bahkan, dewasa ini sering terdengar ditelinga sebuah ungkapan “ulama terdahulu mengarang dalam berbagai disiplin ilmu, untuk zaman sekarang apa faedahnya kita menyibukkan diri untuk menyusun kitab! Apa karangan mereka tidak mampu menjawab permasalahan sekarang”. kata sebagian orang yang tidak berpikir.

Beranjak dari ungkapan di atas penulis tertarik untuk mengkaji sebuah jawaban cerdas habib abdullah bin alawi al haddad yang mengutarakan bahwa orang yang berkata demikian sangat tolol. Karena secara fitrah hati manusia cenderung kepada hal-hal yang baru dan Allah swt. membuat ulama berbicara sesuai dengan ahli zamannya.

Selain itu, mengarang juga membuat ilmu yang dimiliki akan tersebar luas, generasi sesudah kita bisa mengambil banyak manfaat, pengarang memperoleh hasil yang bernilai berupa syi’ar ilmu agama, dan ia tertulis sebagai orang ‘alim yang berdakwah di jalan Allah SWT.

Seperti Sabda Rasul SAW :

من انعش لسانه حقا يعمل به من بعده اجري عليه اجره الى يوم القيامة

Siapa saja yang mengatakan kebenaran sehingga beramal oleh generasi sesudahnya, ia akan mendapatkan pahala orang yang beramal hingga qiyamah.

Wallahu a’lam

Kisah Pernikahan Yusuf Dengan Permaisuri Zulaikha


    Sepeninggal raja mesir, al-Azizi, permaisuri Zulaikha jatuh pailit, papa lagi pikun, dan terkena penyakit rabun mata. Kendati demikian api asmaranya terhada Yusuf A.S. tidak pupus, bahkan kian berpendar semarak dipelabuhan hatinya. Padahal ia berusaha sehabis daya untuk memadamkannya. 

Suatu ketika ia membanting berhala sesembahannya hingga remuk redam. Hal itu ia lakukan karena ternyata “barang yang dianggapnya Tuhan” itu tak mampu mengusir kekalutan hidupnya. Ia kemudian menyatakan diri masuk Islam. 

“Ya Allah, tak ada lagi bagi hamba harta dan kecantikan yang pernah kumiliki. Hamba kini menjadi ibu tua yang fakir lagi hina. Terlebih-lebih, bencana yang tak kunjung berakhir, yakni rasa rindu dendam dan cintaku yang amat dalam kepada Yusuf. 

“Ya Allah, betapa bahagia andai Engkau pertemukan aku dengannya. Kalaupun tidak, lebih baik cabutlah tangkai asmara itu dari kalbu ini, agar lebih ringan derita yang hamba tanggung" Doa Zulaikha kepada Allah. 

Rintihan doa yang penuh keikhlasan itu didengar oleh Malaikat: “Ya Tuhan, Zulaikha datang mengetuk pintu-Mu memohon uluran tangan belas kasih-Mu. 

“Wahai para Malaikat-Ku, Aku tahu, Dan kiranya sekaranglah saat ia harus lepas dari derita berkepanjangan“ Allah SWT. menjawab permohonan Malaikat. 

Suatu hari, Yusuf sang raja, diiringi beberapa pengawalnya lewat di depan rumah Zulaikha. Kebetulan Zulaikha baru keluar dari rumahnya. Ia melihat Yusuf, lalu menyindirnya dengan kata-kata: “Subhanallah (Maha Suci Allah) yang dengan rahmat-Nya menjadikan hamba-hamba-Nya sebagai raja.” Yusuf tertegun menghentikan langkahnya. 

“Siapa Anda wahai perempuan?” tanyanya. “Aku seorang yang pernah membelimu dengan intan permata misik dan mutiara. Akulah si perempuan yang tidak pernah enak makan dan tak nyenyak tidur lantaran dibakar api asmara kepadamu.” 

“Oh, aku ingat sekarang! Di manakah harta dan kekayaanmu. Manapula kecantikanmu?” 

“Wahai Yusuf, semuanya telah sirna! Di makan oleh rasa rindu dan cintaku kepadamu yang merasuk jiwa.” 

“Sekarang bagaimana perasaanmu?” 

“Sungguh kian bergejolak dalam kalbu.” 

Perbincangan Yusuf dengan Zulaikha di atas tidak jauh berbeda dengan perbincangan seorang Mukmin dengan malaikat setelah ia dibaringkan di dalam kubur. 

“Mana hartamu di dunia dahulu?” tanya malaikat. 

“Ia telah pergi binasa.” Jawab Mukmin. 

“Dan mana kebun dan sawah ladangmu yang subur menghijau itu?” 

“Ia pun telah hilang musnah.” 

“Kemana pula rumah, gedung dan villamu?” 

“Semuanya lenyap bersama anak-anak dan kerabatku.” 

“Bagaimanakah pengetahuanmu tentang Allah?” 

“Allah adalah Tuhanku, Islam Agamaku dan Muhammad Nabiku.” 

Akhirnya menikahlah Nabi Yusuf A.S. dan Zulaikha.


Kisah Preman Jadi Wali Allah

 


Kisah Tentang Utbah Al-Ghulam

Ia termasyhur sebagai orang yang paling durhaka dan durjana pada zamannya. Setiap orang pasti mengenal namanya. Sepanjang hari ia lumuri dirinya dengan lumpur dosa dan kemaksiatan dengan bermabuk-mabukan dan melakukan kejahatan-kejahatan lain.

Suatu hari, ketika hadir di Majelis ilmu Syeikh Hasan al-Barsry, ia mendengar seseorang membaca ayat:

Belumkah datang waktu bagai orang-orang beriman untuk menundukkan hati mengingat Allah dan kepada kebenran yang telah turun (kepada mereka))........”Qs.57:16)

Kemudian, Syeikh Hasan menerangkan sifat ayat tersebut sedemikian rupa sehingga membuat hadirin menumpahkan air mata. Tiba-tiba berdirilah seorang pemuda seraya bertanya : “Ya Syeikh, apakah Allah menerima tobat seseorang yang paling durhaka dan berlumur dosa seperti diriku?”

Tentu saja Allah menerima tobatmu, kendati kesalahan dan dosamu sebanyak yang dipikul Uthbah al-Ghulam.” Jawab Hasan al-Basry.

Maka pucat pasilah wajah sang pemuda yang tidak lain al-Ghulam itu. Tubuhnya bergetar hebat mendengar jawaban itu. Ia lalu menjerit dan jatuh pingsan.

Ketika ia siuman, Hasan menyambutnya dengan untaian syair yang membuatnya pingsan kembali:

Wahai pemuda Yang maksiat kepada Pemelihara Arasy Tahukah dengan apa ia dibalas Di neraka Sa’ir ia binasa Pada hari ubun-ubun diremas Bermaksiatlah Bila kau sanggup dilalap api Jika tidak Jauhilah Ingatlah Bila melangkah menuju dosa. Berarti lumuri diri dengan nista Maka sungguh-sungguhlah Mencari selamat jiwa raga

Ya Syeikh .....” Katanya setelah sadar, “adakah Allah yang Mahamulia menerima tobat seorang yang paling nista seperti aku?”


Adakah selain Allah yang Maha Pemaaf yang dapat mengampuni seorang hamba yang selalu menetang dan menjauhi Nya?” Sang Syeikh menanggapi. Lalu Uthbah al-Ghulam menengadahkan kepala seraya mengangkat tangannya, berdoa: “Ilahi, jika engkau menerima tobatku dan mengampuni dosa-dosaku, maka ilhamkan kepadaku kemampuan memahami dan menghafal, sehingga aku cept mengerti dan selalu ingat serta dapat memelihara al-Qur’an dan setia ilmu yang aku dapat.

Rabbi, anugerahilah hamba kemerdduan suara dan lembutnya senandung agar siapa saja yang mendengar bacaanku, bertambah sadar dan lembut hatinya, walau ia orang paling sesat sekalipun.

Ilahi, karuniailah hamba rizki yang halal, yang kedatangannya tidak terduga, dari sisi-Mu.”

Allah Ta’ala akhirnya mengabulkan doanya. Kini setiap kali ia menyampaikan ayat-ayat Qur’an, siapa saja yang mendengarnya menjadi insaf dan bertobat kepada Allah. Tiada pula seorang yang tahu dari mana atau siapa yang memberikan makanan yang selalu terhidang kepadanya, setiap hari. Ia habiskan sisa umurnya dengan melakukan amal-saleh hingga berpisah dengan dunia fana.

Begitulah keadaan orang yang benarbenar insaf dan kembali kepada Allah.

Sesungguhnya Allah tidak menyia-nyiakan pahala orang yang berbuat ihsan (kebajikan).”(Qs. 9:120).kisah preman jadi wali allah

Pernikahan Rasulullah S.A.W Dengan Ummul Mukminin Khadijah


Suatu malam khadijah bermimpi kejatuhan matahari. Sinarnya menghanguskan semua rumah penduduk makkah, kecuali satu dapur. Impian itu lalu diceritakan kepada pamannya yang ahli mimpi, waraqah bin naufal.

“nabi akhir zaman akan menjadi suamimu.” Kata sang paman.

“dari negeri manakah dia?”

“dari makkah.”

“suku apa? Tanya khadijah.

“suku quraisy.”

“keturunan siapa?”

“bani hasyum.”

“siapakah namanya?”

“ia bernama muhammad.”

Pada suatu hari di rumah abu thalib, tatkala sedang ada makan bersama, berjalanlah percakapan santai antara abu thalib, atikah (saudara abu thalib) dan rasulullah saw.

“muhammad sudah dewasa, namun sampai sekarang belum mendapatkan calon. Entahlah wanita bagaimanakah yang cocok dengannya.” Kata abu thalib membuka perbincangan.

“saudaraku, khadijah sebetulnya adalah seorang wanita yang baik. Banyak orang senang berhubungan dengannya. Rupanya allah memberkahi kehidupan wanita itu. Ia sedang mencari seorang lelaki untuk meniagakan dagangannya. Bagaimana kalau kita mengajukan muhammad, sambil mencari langkah baginya untuk menikah?” Kata atikah.

Abu thalib dan atikah bermusyawarah dengan muhammad. Setelah rasul setuju, atikah berangkat ke rumah khadijah menyampaikan kesediaan keponakannya membawakan dagangannya.

“o..... Rupanya inilah takwil impianku.” Ucap khadijah dalam hati, mengingat-ingat tuturan pamannya saat menerima penjelasan dari atikah.

“kata paman, ia seorang arab, dan .... Keponakan atikah ini orang arab, suku quraisy, keturunan hasyim. Namanya muhammad, dan berbudi luhur. Dialah orangnya, penutup para nabi......!” Kata khadijah.

Ia ingin sekali menikah dengan rasul. Sebenarnya ia sudah tak sabar lagi untuk segera mengayuh bahtera rumah tangga dengan rasul pada saat-saat itu juga. Tapi, ia takut gunjingan dan omongan orang.

“aku harus sabar, Sekarang ia kupekerjakan dahulu.” Demikian kata hatinya.

Keadaan khadijah sama dengan keadaan syafura, puteri syuaib tatkala ingin menikah dengan musa. Namun karena malu mengungkapkannya terus terang kepada ayahnya saat itu, maka ia hanya berkata: “ayahku, jadikanlah ia kuli kita yang jujur di sini. Karena sebaik-baiknya kuli yang jujur ialah yang jujur lagi kuat.”

Hal yang demikian serupa pula dengan penegasan berikut ini: “seakan-akan allah berfirman: “ketahuilah bahwa aku hanya menyuruhmu taat dan beribadah kepada-ku, dan aku menimpakan kesulitan kepadamu, Tapi aku tidak menghajatkan darimu ketaatan dan ibdahmu tersebut. Sungguh, betapa besar tuduhan dan fitnah orang-orang kafir.

Sehingga tatkala aku letakkan kepalamu dalam sujud sambil melafalkan “subhana rabbiyal a’la wa bi hamdhi (mahasuci allah, tuhanku yang mahaluhur dan dengan segala puji-nya). Aku menjawab: “labaik. Hai abdi-ku. Sungguh rahmat-ku meliputimu, dan kuberi makan dan minum engkau dengan kasih sayang-ku. Angkatlah kepalamu! Yang kuharapkan darimu adalah hubungan dengan-ku terus menerus.”

Akhirnya khadijah menyambut tawaran atikah: “aku biasa menggaji pegawaiku dua puluh dinar. Namun muhammad akan kugaji lima puluh dinar.” Atikah pulang amat gembira. Sesampai di rumah, ia bercerita kepada saudaranya, abu thalib, dan akhirnya muhammad disuruh berangkat ke rumah khadijah. Ketika berangkat dagang, allah swt. Memayungi rasul dengan awan putih dari sengatan matahari padang pasir hijaz. Dan khadijah telah berpesan kepada maisarah agar muhammad mengenakan pakaian paling bagus dan menunggang unta paling kuat dan besar. Kafilah pun berjalan, beliau terlelap di atas untanya dihembus angin semilir, hingga sampai di halaman sebuah gereja di tepi jalan. Rasul turun di situ untuk beristirahat di bawah sebatang pohon. Dari dalam gereja, sang pendeta melihat awan menaungi kepala rasul. Timbul firasatnya, bahwa lelaki yang tengah berteduh itu adalah seorang nabi akhir zaman. Maka ia mengundang rombongan kafilah tersebut, untuk menjamu mereka sembari menyelidiki siapa diantara mereka yang menyandang kemuliaan itu. Mereka memenuhi undangan itu kecuali rasul. Ia sendirian menunggu barang.

“masih adakah orang di sana?” Tanya si pendeta kepada mereka, saat ia melihat awan itu masih diam.

“ada, seorang yatim, yang sedang menunggu barang-barang dagangannya!” sahut rombongan tadi.

Pendeta lalu keluar menemui. Rasul berdiri bersalaman. Dan beliau diajak masuk, sementara mata pendeta tetap tertuju kepada awan yang ikut bergerak. Sampai di dalam gereja, awan itu diam di atas pintu.

“wahai pemuda, dari manakah anda?” Tanya si pendeta.

“dari makkah!” Jawab rasul SAW.

“dari suku apa?

“dari suku quraisy.”

“keturunan siapa?”

“bani hasyim.”

“siapa namamu?”

“muhammad.”


Tepatlah dugaannya. Selanjutnya sang pendeta menciumnya, seraya berkata: “tak ada tuhan selain allah. Muhammad rasul allah. Perlihatkanlah kepadaku suatu tanda kenabian agar aku lebih yakin.”

“apa itu?” Tanya rasulullah.

“bukalah bajumu!” Di antara ketiakmu ada tanda risalah kenabianmu.” Ujar pendeta.

“bagus............. Bagus.......!” Lanjutnya setelah rasul membuka bajunya.

“tampillah kau di atas pentas dunia, dan dakwalah manusia. Niscaya kau menang!” Sang pendeta berkata sembari mengusap wajah rasulullah saw.

“wahai perhiasan hari kiamat! Wahai pemberi syafaat! Wahai engkau yang tinggi cita-cita dan harapan! Pembuka jalan kesusahan umat dan duka hayat!.”

Akhirnya ia masuk islam dengan sebenarnya.

Setelah dagangannya habis di negeri syam, maka pergilah rasul bersama maisarah melihat upacara hari raya yahudi. Beliau masuk ke kalangan mereka secara sembunyi-sembunyi, guna melihat lebih dekat upacara itu.

Tiba-tiba lentera yang bergantungan yang dipandanginya jatuh berantakan, membuat orang-orang yang sedang sibuk girang itu panik kebingungan. “kami membaca dalam taurat, bila muhammad, nabi akhir zaman hadir dalam upacara hari raya yahudi, maka akan terjadilah hal seperti ini. Barangkali sekarang ia tengah ada di sini.” Kata ulama mereka.

“kalau begitu, mari kita cari dia!” Serentak mereka mencarinya. Melihat keadaan itu, maisarah mengajak rasul pulang ke makkah. Dan ketika perjalanan tinggal sejarak tujuh hari lagi dari makkah, maisarah menawarkan kepada nabi untuk pulang lebih dahulu, untuk menyampaikan berita kepulangan mereka kepada khadijah. Rasulullah menyambut tawaran itu dengan senang hati. Sesudah segala dipersiapkan, ia mempersilahkan rasul pulang, seraya menitipkan sepucuk surat berisikan:

“hai wanita terkemuka quraisy! Perdagangan kita tahun ini memperoleh untung yang luar biasa, yang belum pernah kita dapatkan sebelumnya.”

Rasulullah terus melaju bersama untanya. Di tengah perjalanan pulang, allah menyuruh malaikat jibril a.s. Memperpendek jarak perjalanan. Israfil mengapit di sebelah kanannya, sedang mikail di sebelah kirinya, dan awan tetap memayunginya. Maka dengan izin-nya, rasul tertidur pulas penuh damai, tak terasa beliau sampai ke makkah beberapa jam saja.

Sementara itu, di serambi rumah, khadijah sedang duduk santai penuh penantian dengan padangan sekali-sekali ke negeri syam. Nampak olehnya di kejauhan sosok manusia menaiki unta menuju ke arahnya.

“tahukah kalian, siapakah lelaki yang datang itu?” Khadijah bertanya kepada sekumpulan budak perempuan yang tengah mengerumuninya.

“nampaknya ia muhammad, al-amin,” kata seorang dari mereka.

“kalau benar muhammad, kalian akan kumerdekakan semua.” Tuturnya lagi.

Rasul yang dinanti-nanti pun sampailah. Khadijah menyambutnya penuh hormat. Lantas katanya: “kuhadiahkan unta yang kau kendari itu buatmu.”

Selesai melapor, beliau pulang ke rumahnya guna mencurahkan rindu dengan paman dan bibinya. Beberapa hari kemudian, rasul datang kembali ke rumah khadijah.


“ya muhammad, katakanlah, perlu apa?” Sambut khadijah degan sebuah pertanyaan.

Sambil menundukkan kepala agak malu, rasul bertutur: “paman dan bibiku menyuruhku mengambil gaji. Mereka ingin menikahkanku.”

“wahai muhammad! Gaji itu terlalu sedikit. Tak mencukupi. Tapi, aku bersedia menikahkanmu dengan seorang wanita yang paling mulia. Ia berpengaruh besar di masyarakat, lagi seorang hartawan. Banyak pembesar arab berminat kepadanya, tetapi ia menolaknya. Aku siap untuk menikahkanmu. Sayang ia sudah janda. Kalau anda menerima, ia bersedia menjadi isterimu, dan akan melayanimu penuh bakti setia.” Kata khadijah.

Mendengar ucapan khadijah tersebut, rasul pulang tanpa komentar. Beliau menceritakan hal itu kepada paman dan bibinya.

Pada suatu hari, abu thalib mengadakan acara makan-makan mengundang waraqah serta tokoh arab. Pada saat itu, abu thalib mengungkapkan maksudnya kepada waraqah melamar khadijah.

“tetapi, akan bermusyawarah dulu dengan khadijah.” Kata waraqah.

“paman, bagaimana mungkin aku menolak lamaran seorang lelaki paling jujur, berjiwa pemelihara, dari keturunan baik lagi mulia?” Tukas khadijah saat ditanya sang paman.

“betul, kahdijah. Tapi bukankah dia seorang miskin?” Jawab waraqah.

“aku punya harta melimpah. Tak menghajatkannya lagi. Yang penting keluhuran budinya. Paman, kuwakilkan engkau untuk menikahkanku dengannya.” Ujar khadijah.

Pada waktu yang ditetapkan, berlangsunglah akad nikah di rumah abu thalib.

“ya muhammad, semua milikku, baik benda mati maupun yang bergerak, tanah, ladang dan kebun, rumah dan segala bangunan, barang-barang kebutuhan sehari-hari ataupun segala isi rumah, budak-budak perempuan serta hamba-hamba sahaya, harta yang baru maupun pusaka lama, kuserahkan untukmu!.” Ujar khadijah kepada rasulullah saw.

“dan ia temui dia dalam keadaan miskin, lalu ia mengkayakannya.” (QS. 93:8).

Diriwayatkan bahwa khadijah mengayuh bahtera rumah tangga bersama rasulullah selama duapuluh empat tahun, lima bulan, delapan hari. Lima belas tahun sebelum kenabian dan sisanya sesudah kenabian. Adapun usia rasul saat menikah adalah dua puluh lima tahun. Dari pernikahan ini, lahir tujuh orang anak: tiga orang putera, dan empat orang puteri : al-qasim, at-thahir dan al-muthahhir, yang semuanya wafat pada masa kecil.

Puteri-puterinya adalah: fatimah (az-zahra) yang menikah dengan ali bin abi thalib r.a.: zainab, ummi kultsum, menikah dengan utsman bin affan; ruqayah, yang juga menjadi isteri utsman setelah wafat ummi kultsum. Semua pernikahan mereka berlangsung pada hari jum’at.