Carilah pendamping hidup yang bisa menjadi teman curhat dan bisa memberi jalan keluar dari masalah yang kita hadapi.
Rasulullah Saw meminta saran kepada istri beliau Ummu Salamah ketika perintah beliau tidak dilaksanakan oleh para sahabat yaitu setelah perjanjian Hudaibiyah ketika Rasulullah Saw memerintahkan untuk mencukur rambut, bertahallul dan menyembelih hewan kurban. Kemudian ummu Salamah berkata;" wahai Rasulullah, janganlah engkau mencela para mereka, sebab mereka sedang merasakan sesuatu yang besar di luar perkiraan mereka terkait perjanjian Hudaibiyah itu dan kenyataan mereka akan kembali ke Madinah tanpa berhasil memasuki Mekkah."
Ummu Salamah juga memberi saran kepada Rasulullah Saw untuk keluar kemah dan tidak berbicara dengan siapapun, lalu menyembelih kurban dan mencukur rambutnya. sehingga para sahabat yang melihat langsung mengikuti Rasulullah Saw walaupun ada diantara mereka yang hampir saja melukai diri sendiri karena merasa janggal dengan isi perjanjian Hudaibiyah. Bukannya para sahabat melanggar perintah Nabi Saw tetapi hati mereka sedang merasa janggal dengan keputusan dari perjanjian Hudaibiyah, karena secara zhahir merugikan kaum muslimin dan menguntungkan kaum musyrikin Mekkah.
*Dari kisah ini dapat kita ambil kesimpulan bagi perempuan untuk terus belajar menjadi pribadi yang baik dan punya pendidikan karena mereka adalah sekolah pertama bagi anaknya dan tempat curhat suami ketika ada masalah ataupun tidak.*
Sudah barang tentu bahwa kebahagiaan kita didunia dan mulia kita disisi Allah Swt. di akhirat kelak tidak akan terwujud seandainya kita tidak menjadikan Rasulullah Saw. sebagai panutan, Allah berfirman:
لقد كان لكم فى رسول الله اسوة حسنة لمن كان يرجو الله واليوم الاخر وذكر الله كثيرا
Artinya: “Sesungguhnya telah ada pada (diri) Rasulullah itu suri teladan yang baik bagi kalian (yaitu) bagi orang yang mengharap (rahmat) Allah dan (kedatangan) hari kiamat dan dia banyak menyebut Allah” (Al-Ahzab:21).
Yang menjadi pertanyaan kita sekarang adalah, apakah uswah (suri tauladan) akan terwujud tanpa didasari ma’rifah (mengenal dengan sebenar-benarnya) Rasulullah saw.
Tentu saja tidak, karena kita akan menjadikan Baginda sebagai panutan setelah mengetahui siapa beliau sebenarnya, mengetahui beliau sebagai hambanya yang sempurna, dan memiliki dalil yang jelas di setiap hal yang berhubungan dengan Rasul.
Karena pada ibadah, tata krama, aktivitas, kediaman, perkataan, perbuatan, etika, berjalan, duduk, berdiri, tidur, bicara, diam, semua kondisi, dan diri beliau adalah suri teladan dan panutan. Oleh sebab itu, mari kita pelajari sirah rasullullah Saw. karna itu menjadi kebutuhan bagi kita untuk menjalani aktivitas kita sehari-hari
Bagi Anda yang mengklaim diri cinta kepada Rasulullah saw. sudahkah Anda mempelajari sirahnya dan menjadikannya sebagai panutan, apakah makna mahabbah Rasul yang kalian bicarakan, apakah itu hanya sebatas hiasan lisan dalam berkalam.
Mari sahabatku sekalian!!!
Kita sama-sama belajar sirah beliau saw. dan berusaha semaksimal mungkin untuk meninggalkan panutan yang tidak layak di ikuti, serta berusaha menjadikan Rasulullah saw. sebagai panutan yang haqiqi.
Setelah
lama ditinggal sang ayah di kota makkah bersama ibunya, dan setelah mengalami
peristiwa penyembelihan yang diperintahkan Allah, Nabi Isma'il pun tumbuh besar hingga beranjak
remaja,Ketika itu Isma'il belajar bahasa Arab dari kabilah
Jurhum. Karena merasa tertarik kepadanya, maka mereka mengawinkan salah seorang
wanita dari golongan mereka. Saat itu ibunda Nabi Isma'il sudah meninggal dunia.
Suatu saat Nabi Ibrahim tertarik untuk menjenguk keluarga yang ditinggalkannya, Maka
beliau datang setelah pernikahan itu. Tatkala tiba di rumah Isma'il, beliau
tidak mendapatkan Isma'il. Maka beliau bertanya kepada istrinya, bagaimana
keadaan mereka berdua. Istri Isma'il mengeluhkan kehidupan mereka yang melarat.
Maka Nabi Ibrahim menitip pesan, agar Ismail mengubah palang pintu rumahnya .
Setelah diberitahu, Ismail mengerti maksud pesan ayahnya. Maka Ismail
menceraikan istrinya dan kawin lagi dengan wanita lain yaitu putri Mudhadh bin
Amru, pemimpin dan pemuka kabilah Jurhum.
Setelah
perkawinan Isma'il yang kedua ini, Nabi Ibrahim datang lagi, namun tidak bisa
bertemu dengan Isma'il. Beliau bertanya kepada istri Isma'il tentang keadaan
mereka berdua. Jawaban istri Isma'il adalah pujian kepada Allah. Lalu Nabi
Ibrahim kembali lagi ke Palestina setelah menitipkan pesan lewat istri Isma'il.
Agar Isma'il memperkokoh palang pintu rumahnya.
Setelah
diberitahu Isma'il pun mengerti maksud pesan ayah nya sehingga beliau
mempertahankan perkawinan tersebut hingga dikaruniai anak oleh Allah sebanyak
dua belas, semuanya laki-laki, yaitu:
1.Nabat atau Nabyuth,
2.Qaidar,
3.Adba'il,
4.Mibsyam,
5.Misyma',
6.Duma,
7.Misya,
8.Hadad,
9.Taima,
10.Yathur,
11.Nafis,
12.Dan Qaiduman.
Dari
cerita diatas dapat kita petik pekajaran bahwa betapa besar perhatian Nabi
Ibrahim A.S terhadap menantu yang akan menjadi seorang ibu untuk cucu-cucu nya,
karena keturunan yang baik tentunya berasal dari orang yang baik pula, dan
perlu kita perhatikan bahwa Nabi Ibrahim A.S menilai baik tidak nya seorang
menantu tergantung sebesar mana keimanannya kepada Allah, beliau tidak menilai
kecantikan fisik, atau pun materi yang dimilikinya.
Di
antara mereka yang mati-matian membela Nabiﷺ adalah:
1. Abu
Thalhah Al-Anshari radhiallahu’anhu, Ketika perang Uhud, kaum muslimin lari meninggalkan
Rosulullohﷺ sedangkan
Abu Tholhah berada di hadapan Nabiﷺ., melindunginya
dengan perisai.”
Anas mengatakan: “Abu Tholhah adalah seorang pemanah yang
handal, ia sangat cepat dalam mencabut anak panah. Pada hari itu ia mematahkan
dua atau tiga buah busur (saking banyaknya dia memanah-pent.)”
Anas mengatakan: “Ada seseorang yang lewat dengan membawa
kantong anak panah, ia mengatakan; ‘Berikan kepada Abu Tholhah!’.
Anas mengatakan: “Ketika Nabiﷺ melongokkan kepalanya mau melihat kepada pasukan,
Abu Tholhah mengatakan: ‘Wahai Nabi Allah, demi bapak dan ibuku, janganlah
engkau melongok agar engkau tidak terkena panah musuh,biarkan saya yang terkena
asal engkau selamat.’.”
Abu Thalhah memanah di depan Nabi sambil berkata: “Wajahku
sebagai pelindung wajahmu dan jiwaku sebagai penebus jiwamu”.
Dan
kami juga membaca, Kepala Kantor Wilayah Kementerian Agama Provinsi Aceh, Dr H
Iqbal SAg MAg menyampaikan bahwa, gerhana bulan jangan dikaitkan dengan
kematian, musibah atau hal hal buruk lainnya karena gerhana bulan merupakan
fenomena alam untuk menegaskan keagungan dan kebesaran Allah. Iqbal menghimbau
agar Imam Masjid dan Mushalla/Meunasah di seluruh Aceh dapat melaksanakan
shalat sunnah gerhana (khusuf al-qamar) yang dilanjutkan dengan sedikit khutbah
gerhana pada saat gerhana terjadi sebagaimana data di atas, dianjurkan setelah
shalat maghrib berjamaah tepat ketika sedang terjadi gerhana bulan total.
tatacara shalat gerhana bulan (khusuf al-qamar) dilaksanakan dua rakaat dengan
dua kali ruku’ pada setiap rakaatnya, Adapun di diantara ruku’ pada setiap
rakaat dibacakan beberapa ayat Al-quran. Tata cara ini juga berlaku pada rakaat
kedua sehingga dalam dua rakaat shalat gerhana terdapat empat kali ruku’ dan
empat kali membaca ayat-ayat Alquran. Dan
insya allah, Kanwil Kementerian Agama Provinsi Aceh melalui Observatorium
Pengamatan, Tgk. Chiek Kuta Karang akan memusatkan pengamatan Lantai III Kantor
Wilayah Kemenag Provinsi Aceh dengan menggunakan 6 unit teleskop astronomi. Warga
Aceh juga dapat melihat proses terjadinya gerhana dengan cara melihat langsung
ke arah timur ketika bulan mulai terbit pada pukul 18.17 Wib hingga berakhir
gerhana sebagian pukul 19.49 Wib, juga dapat melihat live peristiwa gerhana
bulan pada channel youtube “Kemenag Aceh” atau Facebook “Kemenag Aceh.” Berdasarkan pengetahuan
kami dari Ketua Tim Falakiyah Kanwil Kemenag Provinsi Aceh, Kamis
(03/November/22), mereka memberitahu bahwa gerhana bulan kemungkinan terjadi
mulai pukul 15.08 WIB dimulai dengan gerhana bulan penumbra. Kemudian akan
terjadi lagi gerhana bulan sebahagian pada pukul 16.08 WIB. Sedangkan awal
gerhana bulan total kemungkinan terjadi pada pukul 17.16 WIB, puncaknya pada
pukul 17.16 WIB, juga puncak gerhana tersebut akan berakhir pada pukul 18.42
WIB. Setelah total, kemungkinan berlanjut dengan gerhana bulan sebahagian
hingga pukul 19.49 WIB dan akhir penumbra terjadi pada pukul 20.57 WIB. Adapun
terjadi gerhana secara keseluruhan, gerhana akan terjadi selama 5 jam 57 menit,
tetapi wilayah Aceh hanya dapat merasakan gerhana ini selama 1 jam 32 menit,
mulai pukul 18.17 ketika bulan mulai terbit dari arah timur. Sedangkan terjadi
gerhana bulan total, kemungkinan hanya dapat dirasakan oleh warga aceh sekitar
25 menit saja.
Ketika
gerhana bulan total terjadi, bulan akan sedikit berwarna merah disekitar pukul
18.17 WIB sampai pukul 18.42 WIB, dan kemudian pada pukul 18.42 bulan akan
berbentuk sabit kecil dan kemudian cahaya akan sedikit demi sedikit memenuhi
piringan bulan hingga akan penuh kembali seperti bulan purnama yang sempurna
pada pukul 19.49 WIB.
Seiring berkembangnya zaman banyak kelompok manusia
yang tampak berkembang namun kapasitas dan pemikiran mereka semakin berkurang.
Bahkan, dewasa ini sering terdengar ditelinga sebuah
ungkapan “ulama terdahulu mengarang dalam berbagai disiplin ilmu, untuk zaman sekarang
apa faedahnya kita menyibukkan diri untuk menyusun kitab! Apa karangan mereka tidak
mampu menjawab permasalahan sekarang”. kata sebagian orang yang tidak berpikir.
Beranjak dari ungkapan di atas penulis tertarik untuk
mengkaji sebuah jawaban cerdas habib abdullah bin alawi al haddad yang mengutarakan
bahwa orang yang berkata demikian sangat tolol. Karena secara fitrah hati
manusia cenderung kepada hal-hal yang baru dan Allah swt. membuat ulama
berbicara sesuai dengan ahli zamannya.
Selain itu, mengarang juga membuat ilmu yang dimiliki
akan tersebar luas, generasi sesudah kita bisa mengambil banyak manfaat,
pengarang memperoleh hasil yang bernilai berupa syi’ar ilmu agama, dan
ia tertulis sebagai orang ‘alim yang berdakwah di jalan Allah SWT.
Seperti Sabda Rasul SAW :
من انعش لسانه حقا يعمل به من
بعده اجري عليه اجره الى يوم القيامة
Siapa saja yang mengatakan kebenaran sehingga beramal
oleh generasi sesudahnya, ia akan mendapatkan pahala orang yang beramal hingga qiyamah.
Sepeninggal raja mesir, al-Azizi, permaisuri Zulaikha jatuh pailit, papa lagi pikun, dan terkena penyakit rabun mata. Kendati demikian api asmaranya terhada Yusuf A.S. tidak pupus, bahkan kian berpendar semarak dipelabuhan hatinya. Padahal ia berusaha sehabis daya untuk memadamkannya.
Suatu ketika ia membanting berhala sesembahannya hingga remuk redam. Hal itu ia lakukan karena ternyata “barang yang dianggapnya Tuhan” itu tak mampu mengusir kekalutan hidupnya. Ia kemudian menyatakan diri masuk Islam.
“Ya Allah, tak ada lagi bagi hamba harta dan kecantikan yang pernah kumiliki. Hamba kini menjadi ibu tua yang fakir lagi hina. Terlebih-lebih, bencana yang tak kunjung berakhir, yakni rasa rindu dendam dan cintaku yang amat dalam kepada Yusuf.
“Ya Allah, betapa bahagia andai Engkau pertemukan aku dengannya. Kalaupun tidak, lebih baik cabutlah tangkai asmara itu dari kalbu ini, agar lebih ringan derita yang hamba tanggung" Doa Zulaikha kepada Allah.
Rintihan doa yang penuh keikhlasan itu didengar oleh Malaikat: “Ya Tuhan, Zulaikha datang mengetuk pintu-Mu memohon uluran tangan belas kasih-Mu.
“Wahai para Malaikat-Ku, Aku tahu, Dan kiranya sekaranglah saat ia harus lepas dari derita berkepanjangan“ Allah SWT. menjawab permohonan Malaikat.
Suatu hari, Yusuf sang raja, diiringi beberapa pengawalnya lewat di depan rumah Zulaikha. Kebetulan Zulaikha baru keluar dari rumahnya. Ia melihat Yusuf, lalu menyindirnya dengan kata-kata: “Subhanallah (Maha Suci Allah) yang dengan rahmat-Nya menjadikan hamba-hamba-Nya sebagai raja.” Yusuf tertegun menghentikan langkahnya.
“Siapa Anda wahai perempuan?” tanyanya. “Aku seorang yang pernah membelimu dengan intan permata misik dan mutiara. Akulah si perempuan yang tidak pernah enak makan dan tak nyenyak tidur lantaran dibakar api asmara kepadamu.”
“Oh, aku ingat sekarang! Di manakah harta dan kekayaanmu. Manapula kecantikanmu?”
“Wahai Yusuf, semuanya telah sirna! Di makan oleh rasa rindu dan cintaku kepadamu yang merasuk jiwa.”
“Sekarang bagaimana perasaanmu?”
“Sungguh kian bergejolak dalam kalbu.”
Perbincangan Yusuf dengan Zulaikha di atas tidak jauh berbeda dengan perbincangan seorang Mukmin dengan malaikat setelah ia dibaringkan di dalam kubur.
“Mana hartamu di dunia dahulu?” tanya malaikat.
“Ia telah pergi binasa.” Jawab Mukmin.
“Dan mana kebun dan sawah ladangmu yang subur menghijau itu?”
“Ia pun telah hilang musnah.”
“Kemana pula rumah, gedung dan villamu?”
“Semuanya lenyap bersama anak-anak dan kerabatku.”
“Bagaimanakah pengetahuanmu tentang Allah?”
“Allah adalah Tuhanku, Islam Agamaku dan Muhammad Nabiku.”
Ia
termasyhur sebagai orang yang paling durhaka dan durjana pada zamannya. Setiap
orang pasti mengenal namanya. Sepanjang hari ia lumuri dirinya dengan lumpur
dosa dan kemaksiatan dengan bermabuk-mabukan dan melakukan kejahatan-kejahatan
lain.
Suatu
hari, ketika hadir di Majelis ilmu Syeikh Hasan al-Barsry, ia mendengar
seseorang membaca ayat:
“Belumkah datang waktu bagai
orang-orang beriman untuk menundukkan hati mengingat Allah dan kepada kebenran
yang telah turun (kepada mereka))........”Qs.57:16)
Kemudian,
Syeikh Hasan menerangkan sifat ayat tersebut sedemikian rupa sehingga membuat
hadirin menumpahkan air mata. Tiba-tiba berdirilah seorang pemuda seraya
bertanya : “Ya Syeikh, apakah Allah menerima tobat seseorang yang paling
durhaka dan berlumur dosa seperti diriku?”
“Tentu saja Allah menerima
tobatmu, kendati kesalahan dan dosamu sebanyak yang dipikul Uthbah al-Ghulam.”
Jawab Hasan al-Basry.
Maka
pucat pasilah wajah sang pemuda yang tidak lain al-Ghulam itu. Tubuhnya
bergetar hebat mendengar jawaban itu. Ia lalu menjerit dan jatuh pingsan.
Ketika
ia siuman, Hasan menyambutnya dengan untaian syair yang membuatnya pingsan
kembali:
“Wahai pemuda Yang maksiat
kepada Pemelihara Arasy Tahukah dengan apa ia dibalas Di neraka Sa’ir ia binasa
Pada hari ubun-ubun diremas Bermaksiatlah Bila kau sanggup dilalap api Jika
tidak Jauhilah Ingatlah Bila melangkah menuju dosa.Berarti lumuri diri dengan nista Maka
sungguh-sungguhlah Mencari selamat jiwa raga”
“Ya Syeikh .....” Katanya
setelah sadar, “adakah Allah yang Mahamulia menerima tobat seorang yang paling
nista seperti aku?”
“Adakah selain Allah yang Maha
Pemaaf yang dapat mengampuni seorang hamba yang selalu menetang dan menjauhi
Nya?” Sang Syeikh menanggapi. Lalu Uthbah al-Ghulam menengadahkan kepala seraya
mengangkat tangannya, berdoa: “Ilahi, jika engkau menerima tobatku dan
mengampuni dosa-dosaku, maka ilhamkan kepadaku kemampuan memahami dan
menghafal, sehingga aku cept mengerti dan selalu ingat serta dapat memelihara
al-Qur’an dan setia ilmu yang aku dapat.
“Rabbi, anugerahilah hamba
kemerdduan suara dan lembutnya senandung agar siapa saja yang mendengar
bacaanku, bertambah sadar dan lembut hatinya, walau ia orang paling sesat
sekalipun.
“Ilahi, karuniailah hamba
rizki yang halal, yang kedatangannya tidak terduga, dari sisi-Mu.”
Allah
Ta’ala akhirnya mengabulkan doanya. Kini setiap kali ia menyampaikan ayat-ayat
Qur’an, siapa saja yang mendengarnya menjadi insaf dan bertobat kepada Allah.
Tiada pula seorang yang tahu dari mana atau siapa yang memberikan makanan yang
selalu terhidang kepadanya, setiap hari. Ia habiskan sisa umurnya dengan
melakukan amal-saleh hingga berpisah dengan dunia fana.
Begitulah
keadaan orang yang benarbenar insaf dan kembali kepada Allah.
“Sesungguhnya Allah tidak
menyia-nyiakan pahala orang yang berbuat ihsan (kebajikan).”(Qs. 9:120).kisah preman jadi wali allah
Suatu malam khadijah bermimpi
kejatuhan matahari. Sinarnya menghanguskan semua rumah penduduk makkah, kecuali
satu dapur. Impian itu lalu diceritakan kepada pamannya yang ahli mimpi,
waraqah bin naufal.
“nabi akhir zaman akan menjadi
suamimu.” Kata sang paman.
“dari negeri manakah dia?”
“dari makkah.”
“suku apa? Tanya khadijah.
“suku quraisy.”
“keturunan siapa?”
“bani hasyum.”
“siapakah namanya?”
“ia bernama muhammad.”
Pada suatu hari di rumah abu thalib,
tatkala sedang ada makan bersama, berjalanlah percakapan santai antara abu
thalib, atikah (saudara abu thalib) dan rasulullah saw.
“muhammad sudah dewasa, namun sampai
sekarang belum mendapatkan calon. Entahlah wanita bagaimanakah yang cocok
dengannya.” Kata abu thalib membuka perbincangan.
“saudaraku, khadijah sebetulnya
adalah seorang wanita yang baik. Banyak orang senang berhubungan dengannya.
Rupanya allah memberkahi kehidupan wanita itu. Ia sedang mencari seorang lelaki
untuk meniagakan dagangannya. Bagaimana kalau kita mengajukan muhammad, sambil
mencari langkah baginya untuk menikah?” Kata atikah.
Abu thalib dan atikah bermusyawarah
dengan muhammad. Setelah rasul setuju, atikah berangkat ke rumah khadijah
menyampaikan kesediaan keponakannya membawakan dagangannya.
“o..... Rupanya inilah takwil
impianku.” Ucap khadijah dalam hati, mengingat-ingat tuturan pamannya saat
menerima penjelasan dari atikah.
“kata paman, ia seorang arab, dan
.... Keponakan atikah ini orang arab, suku quraisy, keturunan hasyim. Namanya muhammad,
dan berbudi luhur. Dialah orangnya, penutup para nabi......!” Kata khadijah.
Ia ingin sekali menikah dengan
rasul. Sebenarnya ia sudah tak sabar lagi untuk segera mengayuh bahtera rumah
tangga dengan rasul pada saat-saat itu juga. Tapi, ia takut gunjingan dan
omongan orang.
“aku harus sabar, Sekarang ia
kupekerjakan dahulu.” Demikian kata hatinya.
Keadaan khadijah sama dengan keadaan
syafura, puteri syuaib tatkala ingin menikah dengan musa. Namun karena malu
mengungkapkannya terus terang kepada ayahnya saat itu, maka ia hanya berkata:
“ayahku, jadikanlah ia kuli kita yang jujur di sini. Karena sebaik-baiknya kuli
yang jujur ialah yang jujur lagi kuat.”
Hal yang demikian serupa pula dengan
penegasan berikut ini: “seakan-akan allah berfirman: “ketahuilah bahwa aku
hanya menyuruhmu taat dan beribadah kepada-ku, dan aku menimpakan kesulitan
kepadamu, Tapi aku tidak menghajatkan darimu ketaatan dan ibdahmu tersebut.
Sungguh, betapa besar tuduhan dan fitnah orang-orang kafir.
Sehingga tatkala aku letakkan
kepalamu dalam sujud sambil melafalkan “subhana rabbiyal a’la wa bi hamdhi
(mahasuci allah, tuhanku yang mahaluhur dan dengan segala puji-nya). Aku
menjawab: “labaik. Hai abdi-ku. Sungguh rahmat-ku meliputimu, dan kuberi makan
dan minum engkau dengan kasih sayang-ku. Angkatlah kepalamu! Yang kuharapkan
darimu adalah hubungan dengan-ku terus menerus.”
Akhirnya khadijah menyambut tawaran
atikah: “aku biasa menggaji pegawaiku dua puluh dinar. Namun muhammad akan
kugaji lima puluh dinar.” Atikah pulang amat gembira. Sesampai di rumah, ia
bercerita kepada saudaranya, abu thalib, dan akhirnya muhammad disuruh
berangkat ke rumah khadijah. Ketika berangkat dagang, allah swt. Memayungi
rasul dengan awan putih dari sengatan matahari padang pasir hijaz. Dan khadijah
telah berpesan kepada maisarah agar muhammad mengenakan pakaian paling bagus
dan menunggang unta paling kuat dan besar. Kafilah pun berjalan, beliau
terlelap di atas untanya dihembus angin semilir, hingga sampai di halaman
sebuah gereja di tepi jalan. Rasul turun di situ untuk beristirahat di bawah
sebatang pohon. Dari dalam gereja, sang pendeta melihat awan menaungi kepala
rasul. Timbul firasatnya, bahwa lelaki yang tengah berteduh itu adalah seorang
nabi akhir zaman. Maka ia mengundang rombongan kafilah tersebut, untuk menjamu
mereka sembari menyelidiki siapa diantara mereka yang menyandang kemuliaan itu.
Mereka memenuhi undangan itu kecuali rasul. Ia sendirian menunggu
barang.
“masih adakah orang di sana?” Tanya
si pendeta kepada mereka, saat ia melihat awan itu masih diam.
“ada, seorang yatim, yang sedang
menunggu barang-barang dagangannya!” sahut rombongan tadi.
Pendeta lalu keluar menemui. Rasul
berdiri bersalaman. Dan beliau diajak masuk, sementara mata pendeta tetap
tertuju kepada awan yang ikut bergerak. Sampai di dalam gereja, awan itu diam
di atas pintu.
“wahai pemuda, dari manakah anda?”
Tanya si pendeta.
“dari makkah!” Jawab rasul SAW.
“dari suku apa?
“dari suku quraisy.”
“keturunan siapa?”
“bani hasyim.”
“siapa namamu?”
“muhammad.”
Tepatlah dugaannya. Selanjutnya sang
pendeta menciumnya, seraya berkata: “tak ada tuhan selain allah. Muhammad rasul
allah. Perlihatkanlah kepadaku suatu tanda kenabian agar aku lebih yakin.”
“apa itu?” Tanya rasulullah.
“bukalah bajumu!” Di antara ketiakmu
ada tanda risalah kenabianmu.” Ujar pendeta.
“bagus............. Bagus.......!”
Lanjutnya setelah rasul membuka bajunya.
“tampillah kau di atas pentas dunia,
dan dakwalah manusia. Niscaya kau menang!” Sang pendeta berkata sembari
mengusap wajah rasulullah saw.
“wahai perhiasan hari kiamat! Wahai
pemberi syafaat! Wahai engkau yang tinggi cita-cita dan harapan! Pembuka jalan
kesusahan umat dan duka hayat!.”
Akhirnya ia masuk islam dengan
sebenarnya.
Setelah dagangannya habis di negeri
syam, maka pergilah rasul bersama maisarah melihat upacara hari raya yahudi.
Beliau masuk ke kalangan mereka secara sembunyi-sembunyi, guna melihat lebih
dekat upacara itu.
Tiba-tiba lentera yang bergantungan
yang dipandanginya jatuh berantakan, membuat orang-orang yang sedang sibuk
girang itu panik kebingungan. “kami membaca dalam taurat, bila muhammad, nabi
akhir zaman hadir dalam upacara hari raya yahudi, maka akan terjadilah hal
seperti ini. Barangkali sekarang ia tengah ada di sini.” Kata ulama mereka.
“kalau begitu, mari kita cari dia!”
Serentak mereka mencarinya. Melihat keadaan itu, maisarah mengajak rasul pulang
ke makkah. Dan ketika perjalanan tinggal sejarak tujuh hari lagi dari makkah,
maisarah menawarkan kepada nabi untuk pulang lebih dahulu, untuk menyampaikan
berita kepulangan mereka kepada khadijah. Rasulullah menyambut tawaran itu
dengan senang hati. Sesudah segala dipersiapkan, ia mempersilahkan rasul
pulang, seraya menitipkan sepucuk surat berisikan:
“hai wanita terkemuka quraisy!
Perdagangan kita tahun ini memperoleh untung yang luar biasa, yang belum pernah
kita dapatkan sebelumnya.”
Rasulullah terus melaju bersama
untanya. Di tengah perjalanan pulang, allah menyuruh malaikat jibril a.s.
Memperpendek jarak perjalanan. Israfil mengapit di sebelah kanannya, sedang
mikail di sebelah kirinya, dan awan tetap memayunginya. Maka dengan izin-nya,
rasul tertidur pulas penuh damai, tak terasa beliau sampai ke makkah beberapa
jam saja.
Sementara itu, di serambi rumah,
khadijah sedang duduk santai penuh penantian dengan padangan sekali-sekali ke
negeri syam. Nampak olehnya di kejauhan sosok manusia menaiki unta menuju ke
arahnya.
“tahukah kalian, siapakah lelaki
yang datang itu?” Khadijah bertanya kepada sekumpulan budak perempuan yang
tengah mengerumuninya.
“nampaknya ia muhammad, al-amin,”
kata seorang dari mereka.
“kalau benar muhammad, kalian akan
kumerdekakan semua.” Tuturnya lagi.
Rasul yang dinanti-nanti pun
sampailah. Khadijah menyambutnya penuh hormat. Lantas katanya: “kuhadiahkan
unta yang kau kendari itu buatmu.”
Selesai melapor, beliau pulang ke
rumahnya guna mencurahkan rindu dengan paman dan bibinya. Beberapa hari
kemudian, rasul datang kembali ke rumah khadijah.
“ya muhammad, katakanlah, perlu
apa?” Sambut khadijah degan sebuah pertanyaan.
Sambil menundukkan kepala agak malu,
rasul bertutur: “paman dan bibiku menyuruhku mengambil gaji. Mereka ingin
menikahkanku.”
“wahai muhammad! Gaji itu terlalu
sedikit. Tak mencukupi. Tapi, aku bersedia menikahkanmu dengan seorang wanita
yang paling mulia. Ia berpengaruh besar di masyarakat, lagi seorang hartawan.
Banyak pembesar arab berminat kepadanya, tetapi ia menolaknya. Aku siap untuk
menikahkanmu. Sayang ia sudah janda. Kalau anda menerima, ia bersedia menjadi
isterimu, dan akan melayanimu penuh bakti setia.” Kata khadijah.
Mendengar ucapan khadijah tersebut,
rasul pulang tanpa komentar. Beliau menceritakan hal itu kepada paman dan
bibinya.
Pada suatu hari, abu thalib
mengadakan acara makan-makan mengundang waraqah serta tokoh arab. Pada saat
itu, abu thalib mengungkapkan maksudnya kepada waraqah melamar khadijah.
“tetapi, akan bermusyawarah dulu
dengan khadijah.” Kata waraqah.
“paman, bagaimana mungkin aku
menolak lamaran seorang lelaki paling jujur, berjiwa pemelihara, dari keturunan
baik lagi mulia?” Tukas khadijah saat ditanya sang paman.
“betul, kahdijah. Tapi bukankah dia
seorang miskin?” Jawab waraqah.
“aku punya harta melimpah. Tak
menghajatkannya lagi. Yang penting keluhuran budinya. Paman, kuwakilkan engkau
untuk menikahkanku dengannya.” Ujar khadijah.
Pada waktu yang ditetapkan,
berlangsunglah akad nikah di rumah abu thalib.
“ya muhammad, semua milikku, baik
benda mati maupun yang bergerak, tanah, ladang dan kebun, rumah dan segala
bangunan, barang-barang kebutuhan sehari-hari ataupun segala isi rumah,
budak-budak perempuan serta hamba-hamba sahaya, harta yang baru maupun pusaka
lama, kuserahkan untukmu!.” Ujar khadijah kepada rasulullah saw.
“dan ia temui dia dalam keadaan
miskin, lalu ia mengkayakannya.” (QS. 93:8).
Diriwayatkan bahwa khadijah mengayuh
bahtera rumah tangga bersama rasulullah selama duapuluh empat tahun, lima
bulan, delapan hari. Lima belas tahun sebelum kenabian dan sisanya sesudah
kenabian. Adapun usia rasul saat menikah adalah dua puluh lima tahun. Dari
pernikahan ini, lahir tujuh orang anak: tiga orang putera, dan empat orang
puteri : al-qasim, at-thahir dan al-muthahhir, yang semuanya wafat pada masa
kecil.
Puteri-puterinya adalah: fatimah
(az-zahra) yang menikah dengan ali bin abi thalib r.a.: zainab, ummi kultsum,
menikah dengan utsman bin affan; ruqayah, yang juga menjadi isteri utsman
setelah wafat ummi kultsum. Semua pernikahan mereka berlangsung pada hari jum’at.