Sebagian ulama berargumen bahwa Rasulullah SAW.
melakukan hal demikian adalah untuk menyatakan undang-undang agama.
Lantas, bagaimana dengan kita yang mengklaim mengikuti
syari’at Rasul. Apakah kita sudah tekun Qiyamullail ?
Alhamdulillah bagi yang sudah tekun, tugas kita hanya
tertuju untuk meningkatkan ibadah yang dianjurkan di waktu malam dan mengikhlaskan
niat.
Sebaliknya, apa gerangan bagi yang belum tekun Qiyamullail
bahkan tidak mengenal sama sekali Qiyamullail. Tentu saja kita
menginginkan untuk mengikuti sunnah Rasul, namun karena dilatarbelakangi
oleh beberapa sebab sehingga keinginan itu tersusun di entri paling belakang.
Dari sini, penulis menarik ingin mengungkit empat
faktor yang memudahkan dalam mengaplikasikan Qiyamullail;
Pertama:
Tidak banyak makan. Adalah salah satu faktor yang
menyebab kita mudah untuk Qiyamullail, karena seandainya banyak makan, kita
akan kelamaan tidur dan susah untuk bangun.
Kedua:
Tidak bekerja berat diwaktu siang. Karena dengan bekerja berat akan menyebabkan letih dan mendorong untuk tidur.
Ketiga:
Tidak meninggalkan qailulah (istirahat antara
waktu duha dan zuhur). Karena selain perkara sunah qailulah juga dapat
membantu untuk memudahkan Qiyamullail.
Ke empat:
Tidak menjauhi dosa dan kemaksiatan. Karena dengan
melakukan kemaksiatan dapat menyebabkan keras hati dan jauh dari rahmat Allah
sehingga susah untuk bangun malam.
Alkisah, suatu ketika ada seseorang mendatangi hasan al
bashri dan mengadu “wahai aba sa’id aku bermalam dalam keadaan sehat dan menginginkan
Qiyamullail sehingga aku siapkan air untuk bersuci. Tetapi aku tidak
terbangun, ada apa denganku ?
Aba hasan dengan simpel menjawab “dosamu yang merintangi
mu dari Qiyamullail!"
Bahkan dalam naskah yang lain hasan al bashri
mengungkapkan “seandainya seseorang melakukan sebuah kesalahan, maka ia tidak
sanggup Qiyamullail dan berpuasa".
Wallahu a’lam.

Tidak ada komentar:
Posting Komentar