“nabi akhir zaman akan menjadi
suamimu.” Kata sang paman.
“dari negeri manakah dia?”
“dari makkah.”
“suku apa? Tanya khadijah.
“suku quraisy.”
“keturunan siapa?”
“bani hasyum.”
“siapakah namanya?”
“ia bernama muhammad.”
Pada suatu hari di rumah abu thalib,
tatkala sedang ada makan bersama, berjalanlah percakapan santai antara abu
thalib, atikah (saudara abu thalib) dan rasulullah saw.
“muhammad sudah dewasa, namun sampai
sekarang belum mendapatkan calon. Entahlah wanita bagaimanakah yang cocok
dengannya.” Kata abu thalib membuka perbincangan.
“saudaraku, khadijah sebetulnya
adalah seorang wanita yang baik. Banyak orang senang berhubungan dengannya.
Rupanya allah memberkahi kehidupan wanita itu. Ia sedang mencari seorang lelaki
untuk meniagakan dagangannya. Bagaimana kalau kita mengajukan muhammad, sambil
mencari langkah baginya untuk menikah?” Kata atikah.
Abu thalib dan atikah bermusyawarah
dengan muhammad. Setelah rasul setuju, atikah berangkat ke rumah khadijah
menyampaikan kesediaan keponakannya membawakan dagangannya.
“o..... Rupanya inilah takwil
impianku.” Ucap khadijah dalam hati, mengingat-ingat tuturan pamannya saat
menerima penjelasan dari atikah.
“kata paman, ia seorang arab, dan
.... Keponakan atikah ini orang arab, suku quraisy, keturunan hasyim. Namanya muhammad,
dan berbudi luhur. Dialah orangnya, penutup para nabi......!” Kata khadijah.
Ia ingin sekali menikah dengan
rasul. Sebenarnya ia sudah tak sabar lagi untuk segera mengayuh bahtera rumah
tangga dengan rasul pada saat-saat itu juga. Tapi, ia takut gunjingan dan
omongan orang.
“aku harus sabar, Sekarang ia
kupekerjakan dahulu.” Demikian kata hatinya.
Keadaan khadijah sama dengan keadaan
syafura, puteri syuaib tatkala ingin menikah dengan musa. Namun karena malu
mengungkapkannya terus terang kepada ayahnya saat itu, maka ia hanya berkata:
“ayahku, jadikanlah ia kuli kita yang jujur di sini. Karena sebaik-baiknya kuli
yang jujur ialah yang jujur lagi kuat.”
Hal yang demikian serupa pula dengan
penegasan berikut ini: “seakan-akan allah berfirman: “ketahuilah bahwa aku
hanya menyuruhmu taat dan beribadah kepada-ku, dan aku menimpakan kesulitan
kepadamu, Tapi aku tidak menghajatkan darimu ketaatan dan ibdahmu tersebut.
Sungguh, betapa besar tuduhan dan fitnah orang-orang kafir.
Sehingga tatkala aku letakkan
kepalamu dalam sujud sambil melafalkan “subhana rabbiyal a’la wa bi hamdhi
(mahasuci allah, tuhanku yang mahaluhur dan dengan segala puji-nya). Aku
menjawab: “labaik. Hai abdi-ku. Sungguh rahmat-ku meliputimu, dan kuberi makan
dan minum engkau dengan kasih sayang-ku. Angkatlah kepalamu! Yang kuharapkan
darimu adalah hubungan dengan-ku terus menerus.”
Akhirnya khadijah menyambut tawaran atikah: “aku biasa menggaji pegawaiku dua puluh dinar. Namun muhammad akan kugaji lima puluh dinar.” Atikah pulang amat gembira. Sesampai di rumah, ia bercerita kepada saudaranya, abu thalib, dan akhirnya muhammad disuruh berangkat ke rumah khadijah. Ketika berangkat dagang, allah swt. Memayungi rasul dengan awan putih dari sengatan matahari padang pasir hijaz. Dan khadijah telah berpesan kepada maisarah agar muhammad mengenakan pakaian paling bagus dan menunggang unta paling kuat dan besar. Kafilah pun berjalan, beliau terlelap di atas untanya dihembus angin semilir, hingga sampai di halaman sebuah gereja di tepi jalan. Rasul turun di situ untuk beristirahat di bawah sebatang pohon. Dari dalam gereja, sang pendeta melihat awan menaungi kepala rasul. Timbul firasatnya, bahwa lelaki yang tengah berteduh itu adalah seorang nabi akhir zaman. Maka ia mengundang rombongan kafilah tersebut, untuk menjamu mereka sembari menyelidiki siapa diantara mereka yang menyandang kemuliaan itu. Mereka memenuhi undangan itu kecuali rasul. Ia sendirian menunggu barang.
“masih adakah orang di sana?” Tanya si pendeta kepada mereka, saat ia melihat awan itu masih diam.
“ada, seorang yatim, yang sedang menunggu barang-barang dagangannya!” sahut rombongan tadi.
Pendeta lalu keluar menemui. Rasul
berdiri bersalaman. Dan beliau diajak masuk, sementara mata pendeta tetap
tertuju kepada awan yang ikut bergerak. Sampai di dalam gereja, awan itu diam
di atas pintu.
“wahai pemuda, dari manakah anda?”
Tanya si pendeta.
“dari makkah!” Jawab rasul SAW.
“dari suku apa?
“dari suku quraisy.”
“keturunan siapa?”
“bani hasyim.”
“siapa namamu?”
“muhammad.”
Tepatlah dugaannya. Selanjutnya sang pendeta menciumnya, seraya berkata: “tak ada tuhan selain allah. Muhammad rasul allah. Perlihatkanlah kepadaku suatu tanda kenabian agar aku lebih yakin.”
“apa itu?” Tanya rasulullah.
“bukalah bajumu!” Di antara ketiakmu
ada tanda risalah kenabianmu.” Ujar pendeta.
“bagus............. Bagus.......!”
Lanjutnya setelah rasul membuka bajunya.
“tampillah kau di atas pentas dunia,
dan dakwalah manusia. Niscaya kau menang!” Sang pendeta berkata sembari
mengusap wajah rasulullah saw.
“wahai perhiasan hari kiamat! Wahai
pemberi syafaat! Wahai engkau yang tinggi cita-cita dan harapan! Pembuka jalan
kesusahan umat dan duka hayat!.”
Akhirnya ia masuk islam dengan
sebenarnya.
Setelah dagangannya habis di negeri
syam, maka pergilah rasul bersama maisarah melihat upacara hari raya yahudi.
Beliau masuk ke kalangan mereka secara sembunyi-sembunyi, guna melihat lebih
dekat upacara itu.
Tiba-tiba lentera yang bergantungan
yang dipandanginya jatuh berantakan, membuat orang-orang yang sedang sibuk
girang itu panik kebingungan. “kami membaca dalam taurat, bila muhammad, nabi
akhir zaman hadir dalam upacara hari raya yahudi, maka akan terjadilah hal
seperti ini. Barangkali sekarang ia tengah ada di sini.” Kata ulama mereka.
“kalau begitu, mari kita cari dia!”
Serentak mereka mencarinya. Melihat keadaan itu, maisarah mengajak rasul pulang
ke makkah. Dan ketika perjalanan tinggal sejarak tujuh hari lagi dari makkah,
maisarah menawarkan kepada nabi untuk pulang lebih dahulu, untuk menyampaikan
berita kepulangan mereka kepada khadijah. Rasulullah menyambut tawaran itu
dengan senang hati. Sesudah segala dipersiapkan, ia mempersilahkan rasul
pulang, seraya menitipkan sepucuk surat berisikan:
“hai wanita terkemuka quraisy!
Perdagangan kita tahun ini memperoleh untung yang luar biasa, yang belum pernah
kita dapatkan sebelumnya.”
Rasulullah terus melaju bersama
untanya. Di tengah perjalanan pulang, allah menyuruh malaikat jibril a.s.
Memperpendek jarak perjalanan. Israfil mengapit di sebelah kanannya, sedang
mikail di sebelah kirinya, dan awan tetap memayunginya. Maka dengan izin-nya,
rasul tertidur pulas penuh damai, tak terasa beliau sampai ke makkah beberapa
jam saja.
Sementara itu, di serambi rumah,
khadijah sedang duduk santai penuh penantian dengan padangan sekali-sekali ke
negeri syam. Nampak olehnya di kejauhan sosok manusia menaiki unta menuju ke
arahnya.
“tahukah kalian, siapakah lelaki
yang datang itu?” Khadijah bertanya kepada sekumpulan budak perempuan yang
tengah mengerumuninya.
“nampaknya ia muhammad, al-amin,”
kata seorang dari mereka.
“kalau benar muhammad, kalian akan
kumerdekakan semua.” Tuturnya lagi.
Rasul yang dinanti-nanti pun
sampailah. Khadijah menyambutnya penuh hormat. Lantas katanya: “kuhadiahkan
unta yang kau kendari itu buatmu.”
Selesai melapor, beliau pulang ke
rumahnya guna mencurahkan rindu dengan paman dan bibinya. Beberapa hari
kemudian, rasul datang kembali ke rumah khadijah.
“ya muhammad, katakanlah, perlu apa?” Sambut khadijah degan sebuah pertanyaan.
Sambil menundukkan kepala agak malu,
rasul bertutur: “paman dan bibiku menyuruhku mengambil gaji. Mereka ingin
menikahkanku.”
“wahai muhammad! Gaji itu terlalu
sedikit. Tak mencukupi. Tapi, aku bersedia menikahkanmu dengan seorang wanita
yang paling mulia. Ia berpengaruh besar di masyarakat, lagi seorang hartawan.
Banyak pembesar arab berminat kepadanya, tetapi ia menolaknya. Aku siap untuk
menikahkanmu. Sayang ia sudah janda. Kalau anda menerima, ia bersedia menjadi
isterimu, dan akan melayanimu penuh bakti setia.” Kata khadijah.
Mendengar ucapan khadijah tersebut,
rasul pulang tanpa komentar. Beliau menceritakan hal itu kepada paman dan
bibinya.
Pada suatu hari, abu thalib
mengadakan acara makan-makan mengundang waraqah serta tokoh arab. Pada saat
itu, abu thalib mengungkapkan maksudnya kepada waraqah melamar khadijah.
“tetapi, akan bermusyawarah dulu
dengan khadijah.” Kata waraqah.
“paman, bagaimana mungkin aku
menolak lamaran seorang lelaki paling jujur, berjiwa pemelihara, dari keturunan
baik lagi mulia?” Tukas khadijah saat ditanya sang paman.
“betul, kahdijah. Tapi bukankah dia
seorang miskin?” Jawab waraqah.
“aku punya harta melimpah. Tak
menghajatkannya lagi. Yang penting keluhuran budinya. Paman, kuwakilkan engkau
untuk menikahkanku dengannya.” Ujar khadijah.
Pada waktu yang ditetapkan,
berlangsunglah akad nikah di rumah abu thalib.
“ya muhammad, semua milikku, baik
benda mati maupun yang bergerak, tanah, ladang dan kebun, rumah dan segala
bangunan, barang-barang kebutuhan sehari-hari ataupun segala isi rumah,
budak-budak perempuan serta hamba-hamba sahaya, harta yang baru maupun pusaka
lama, kuserahkan untukmu!.” Ujar khadijah kepada rasulullah saw.
“dan ia temui dia dalam keadaan miskin, lalu ia mengkayakannya.” (QS. 93:8).
Diriwayatkan bahwa khadijah mengayuh
bahtera rumah tangga bersama rasulullah selama duapuluh empat tahun, lima
bulan, delapan hari. Lima belas tahun sebelum kenabian dan sisanya sesudah
kenabian. Adapun usia rasul saat menikah adalah dua puluh lima tahun. Dari
pernikahan ini, lahir tujuh orang anak: tiga orang putera, dan empat orang
puteri : al-qasim, at-thahir dan al-muthahhir, yang semuanya wafat pada masa
kecil.
Puteri-puterinya adalah: fatimah (az-zahra) yang menikah dengan ali bin abi thalib r.a.: zainab, ummi kultsum, menikah dengan utsman bin affan; ruqayah, yang juga menjadi isteri utsman setelah wafat ummi kultsum. Semua pernikahan mereka berlangsung pada hari jum’at.

Mantap
BalasHapusKomentar ini telah dihapus oleh pengarang.
BalasHapus