Bagi
kaum beriman, tenangnya hati seharusnya bukan disebabkan oleh berlimpahnya
harta, atau tingginya jabatan. Tenangnya hati selayaknya disebabkan oleh
aktifnya mengingat nama-nama dan keagungan Allah swt. Karena dengan berdzikir jiwa
kita akan tentram. Apalagi dzikir itu dimaksudkan untuk mendorong hati menuju
kesadaran tentang kebesaran dan kekuasaan Allah swt, bukan sekadar ucapan
dengan lidah.
Sebagai seorang yang beriman, sudah seharusnya segala urusan dalam hidup harus menjadi zikrullah dan jalan untuk lebih dekat kepada Allah. Jika diberi kelebihan jangan ujub, dan jika diberi kekurangan jangan minder. Terima saja, karena semua adalah milik Allah. Yang menurut manusia cacat dan kurang, boleh jadi itu adalah cara Allah melindungi hamba-Nya dari kesombongan, dari ujub dan dari kemaksiatan.
Rumus ketenangan hati, yakni jika melihat kelebihan orang lain jangan iri, karena semua hanya milik Allah. Dan jika melihat kekurangan orang lain jangan menghina, karena boleh jadi orang yang memiliki keterbatasan dalam dirinya, justru memiliki kemuliaan disisi Allah SWT dibandingkan orang yang merasa sempurna. Jika kita ingin merasakan nikmatnya iman, kuncinya adalah zikrullah. Sebagaimana firman-Nya :
أَلَا بِذِكْرِ اللَّهِ
تَطْمَئِنُّ القُلُوْب
Artinya:
"Ingatlah, hanya dengan mengingat Allah
hati menjadi tenteram"
Seharusnya kita ingat Allah
bukan hanya saat melihat langit. Paling nikmat dalam hidup ini adalah mengagumi
Allah dengan melihat ciptaannya, betapa Maha Kuasanya Allah yang telah
menciptakan alam semesta beserta isinya.

Tidak ada komentar:
Posting Komentar